Sejarah Andalusia

Andalusia atau Al-Andalus adalah nama lain dari Muslim Spanyol atau Muslim Iberia yang pada abad pertengahan merupakan Negara Islam yang pada masa kejayaannya menguasai sebagian besar wilayah yang saat ini adalah Spanyol, Portugal dan juga Perancis bagian Selatan.  Nama Andalus juga mewakili bagian dari semenanjung Iberia yang dikuasai oleh Kaum Muslim atau Moor pada kurun waktu antara tahun 711 - 1492 M.

Pada masa Khalifah Umayyah Al-Walid I, seorang Jenderal bernama Tariq Ibnu Ziyad dari suku Berber, memimpin sekitar 12.000 pasukan menyeberang Selat Gibraltar pada tanggal 30 April 711. Tariq Bin Ziyad dan pasukannya mendarat di Calpe (arah timur kota Algeciras), yang kemudian hari berubah namanya menjadi Jabal Al-Fatah (Gunung Kemenangan), namun lebih dikenal sebagai Jabal Tariq atau Gibraltar.  Sesaat setelah mendarat, Tariq Bin Ziyad memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang menyeberangkan mereka dan menyampaikan pidatonya yang legendaris kepada pasukannya : "Kemanakah kalian dapat melarikan diri sementara musuh berada di depan dan lautan berada di belakang kalian? Demi Allah! Tak ada keselamatan bagi kalian kecuali dalam keberanian dan keteguhan hati kalian."

Setelah mengalahkan Raja Visigoth Roderic dalam perang Guadalete, Tariq Bin Ziyad bersama Musa Ibn Nusayr (Gubernur Umayyah di Afrika Utara) melalui 7 tahun peperangan akhirnya berhasil menaklukkan seluruh Kerajaan Visigoth dibawah kekuasaan Muslim.  Semenanjung Iberia menjadi bagian dari Kekhalifahan Umayyah dengan nama Al-Andalus dengan Ibukota Cordoba.

Setelah jatuhnya Dinasti Umayyah di Damaskus tahun 750 M, seorang pangeran dari Umayyah yang berhasil selamat dan melarikan diri ke Andalus, Abdul Rahman I, berhasil menyingkirkan penguasa Andalus saat itu Yusuf Al-Fihri dan menjadikan dirinya Emir Cordoba serta menolak untuk tunduk kepada Khalifah Islam Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad.

Pada tahun 929 M, dengan adanya ancaman serangan dari Kekhalifahan Fatimiyah yang berkuasa di Kairo, Emir Cordoba saat itu, Abdurrahman III, memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah Cordoba (Khilafat Qurtuba) yang menguasai Al-Andalus dan Maroko.  Di masa Khalifah Abdurrahman III dilanjutkan oleh anaknya, Al-Hakam II, Andalusia mengalami masa kejayaaan dan menjadi salah satu Kerajaan terkaya dan terkuat di Eropa.  Namun setelah wafatnya Al-Hakam II, kekhalifahan mengalami kemunduran, terjadi perang saudara (fitna al-andalus) dan akhirnya berakhir pada tahun 1031 M dan wilayahnya terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil (Taifa) antara lain, Zaragoza, Albaracin, Alpuente, Mallorca, Toledo, Valencia, Sevilla, Cordoba, Badajoz (Portugal Selatan), Almeria, Granada, Malaga, Carmona dan Murcia. Pada tahun 1090 M, sebagian besar Taifa tersebut dikuasai dan menjadi bagian dari Dinasti Almoravid yang berkuasa dari Maroko sampai dengan tahun 1172 dilanjutkan kemudian oeh Dinasti Almohad 1172 - 1248 yang memindahkan ibukota dari Cordoba ke Sevilla.

Masa kejayaan Andalus ditandai dengan perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan arsitektur.  Pada abad ke-10 saja kota Cordoba memiliki 700 Masjid dan 70 Perpustakaan yang salah satu terbesarnya memiliki 500.000 naskah buku. Munculnya cendikiawan-cendikiawan muslim dengan karya-karyanya yang mempengaruhi tidak hanya dunia Islam namun juga dunia barat (Kristen Eropa) yang saat itu peradabannya masih tertinggal dari Islam, antara lain Abu Al Walid Muhammad Bin Ahmad Bin Rusyd (1126-1198) atau yang di Barat dikenal sebagai Averroes.  Beliau adalah cendikiawan kelahiran Cordoba, seorang ahli fiqih, filsafat, kedokteran, psikologi, matematika, astronomi, fisika dan lain-lain yang sangat terkenal dan dikagumi terutama di dunia Barat.  Andalus saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dan pendidikan di Eropa, tidak hanya bagi kaum Muslim tapi juga Nasrani dan Yahudi yang datang dari berbagai penjuru Eropa untuk belajar dan menterjemahkan buku-buku ke bahasa mereka.

Era kekuasaan Islam di Andalusia berakhir dengan peristiwa Reconquista yaitu penaklukkan kembali wilayah-wilayah di Spanyol dan Portugal oleh Gabungan Kerajaan Kristen ditandai dengan jatuhnya Zaragoza, Valencia, Cordova (1236) dan terakhir ibukota Sevilla (1248).  Granada adalah satu-satunya wilayah yang masih dikuasai oleh Islam saat itu sampai dengan tahun 1492.

Peninggalan-peninggalan bangunan masa kejayaan Al-Andalus yang berarsitektur khas Moor masih dapat dilihat sampai saat ini meskipun telah berubah fungsinya antara lain : Masjid Cordoba (Mezquita Cathederal), Istana Madinat Az-Zahra di Cordoba, Istana Alcazar dan menara La Giralda di Sevilla, Istana Al-Hambra dan Jannat Al-Arif (Generalife) di Granada, Istana Al-Jaferiya di Zaragoza, dan lain-lain.  Namun peninggalan terbesar dari Andalus adalah peradaban, ilmu pengetahuan dan budaya yang mereka wariskan dan ajarkan kepada bangsa Barat di Eropa yang saat itu masih dalam masa kegelapan.

 

lihat Paket Tour Ziarah Muslim Andalusia Spanyol.