Tata Cara Berihram

Ihram adalah niat untuk memulai mengerjakan Haji atau Umrah bagi umat muslim yang akan menunaikan ibadah Haji atau ibadah umrah ke tanah suci Makkah, sebagaimana takbir dalam shalat. Ihram wajib dikerjakan dari batas waktu dan tempat yang telah ditentukan (miqat).  Miqat terdiri dari dua macam, yang pertama adalah Miqat Zamani (batas waktu) yaitu untuk Haji mulai bulan Syawal sampai dengan tanggal 10 Dzulhijah. Karena itu apabila berihram diluar waktu tersebut maka ihramnya menjadi ihram umrah.  Yang kedua adalah Miqat Makani (batas tempat), yaitu batas tempat dimana seseorang yang hendak berhaji atau berumrah tidak boleh melewatinya tanpa berpakaian ihram, jika ia melanggarnya maka wajib membayar dam terkecuali ia kembali ke miqat tersebut.  Miqat makani tergantung dari tempat tinggal atau jurusan mana datangnya jamaah tersebut, yaitu bagi yang bertempat tinggal di tanah haram (makkah) harus terlebih dahulu keluar ke tanah halal yang bisa dipergunakan untuk miqat adalah Ji'ranah dan Tan'im.  Sedangkan bagi yang dari luar Makkah ada 5 miqat yang telah ditentukan :

  1. Dzulhulaifah atau Birr Ali, adalah miqat bagi yang datang dari arah Madinah.
  2. Juhfah (Rabiq), adalah miqat bagi yang datang dari Mesir, Syam dan Maghribi.
  3. Qarnul Manazil, miqat bagi yang datang dari Najd atau Kuwait.
  4. Yalamlam, merupakan miqat bagi jamaah dari arah Yaman.
  5. Dzatu'Irqin, bagi yang datang dari arah Irak.

Karena kebanyakan Jamaah Haji maupun Umrah dari Indonesia datang tidak melalui miqat-miqat yang ada dalam hadits, maka sesuai kesepakatan ulama melalui ijtihad menetapkan bahwa miqat yang tidak berdekatan dengan miqat lainnya berjarak sekurang-kurangnya dua marhalah dari Makkah (miqat terpendek yang ada dalam Hadits), maka Bandara King Abdul Aziz di Jeddah boleh digunakan sebagai miqat bagi siapa saja yang datang dengan pesawat terbang dan tidak melalui miqat-miqat yang ditentukan oleh Rasulullah SAW dalam hadits.

Sebelum memakai ihram sebaiknya terlebih dahulu mandi sunnah ihram dan berwudhu. Setelah itu baru memakai pakaian ihram yaitu bagi laki-laki 2 lembar kain yang tidak berjahit, 1 lembar untuk menutup aurat antara lutut dan pusar, 1 lembar untuk badan, dililitkan sekeliling tubuh.  Sementara untuk perempuan tidak ada pakaian khusus asal sewajarnya namun dilarang memakai cadar dan sarung tangan. Ketika berihram boleh memakai sandal atau sepatu, jam tangan, cincin, kaca mata dan ikat pinggang.  

Sebelum memakai ihram diperbolehkan menggunakan minyak rambut atau wangi-wangian di badan. Pakaian ihram boleh diganti atau dicuci, serta dibolehkan untuk mandi atau membasuh kepala.  Bila terluka atau rambut rontok tanpa disengaja tidak dikenakan sanksi apa-apa.  Ketika berangkat atau sampai di miqat supaya menetapkan niat.

Niat Ihram

Pada saat berada di miqat, berniat dalam hati dengan ikhlas karena Allah dengan mengucapkan :

  1. Jika Umrah saja, ucapkan "Labbaika Allahuma 'umratan". Yang artinya, aku menyambut panggilanMu ya Allah untuk berumrah.
  2. Jika Haji saja (ifrad), ucapkan "Labbaika Allahuma hajjan". Yang artinya, aku menyambut panggilanMu ya Allah untuk berhaji.
  3. Jika Umrah sekaligus Haji (qiran), ucapkan "Labbaika Allahuma 'umratan wa hajjan", yang artinya, aku menyambut panggilanMu ya Allah untuk berumrah dan berhaji.

Larangan-larangan Ihram

Bagi Laki-laki dan Perempuan :

  • Memakai wangi-wangian pada badan, rambut, maupun pakaian. Adapun sisa yang dipakai sebelum berihram tidak apa-apa.
  • Memotong kuku, menggunting atau menghilangkan rambut dengan sengaja.
  • Memburu, membunuh, menghalau atau membantu orang berburu binatang yang halal dimakan.
  • Menebang pohon atau mencabut tanaman yang masih hijau di tanah haram.
  • Nikah dan menikahkan atau melamar dan dilamar
  • Bersentuh-sentuhan dengan syahwat
  • Melakukan hubungan suami-istri

Larangan khusus laki-laki :

  • Memakai pakaian berjahit
  • Menutup kepala, namun boleh menggunakan payung, berteduh di bawah kendaraan atau membawa barang di atas kepala

Larangan khusus perempuan :

  • Memakai sarung tangan dan menutup muka

Setelah selesai mengucapkan niat maka disunahkan membaca Talbiyah :

"Labbaika Allahuma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik, innalhamda wanni'mata, laka wal mulk, laa syariikalak."  

Artinya,

"Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala puji, ni'mat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu". 

 

Berikutnya : Thawaf