Tahalul

Pengertian Tahalul adalah menjadi halal atau dibolehkan.  Dalam hal pelaksanaan Haji atau Umrah, berarti keadaan dimana seseorang yang telah selesai melaksanakan seluruh rangkaian ibadah Haji dan Umrah dihalalkan untuk melakukan hal-hal yang tadinya dilarang saat berihram.  

Allah SWT berfirman yang artinya, "Sungguh Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut.  Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat." (Q.S Al Fath ayat 27)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.A, Rasulullah SAW usai tahalul dan bercukur, berdo'a, "Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya!".  Dan mereka (para sahabat) berkata, "dan yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Nabi mengulangi do'a yang sama hingga tiga kali, "Ya Allah rahmatilah orang-orang yang mencukur rambutnya!" Dan mereka kembali berkata, "dan orang-orang yang memendekkan rambutnya, wahai Rasulullah?" Maka Nabi menjawab, "Dan orang-orang yang memendekkan rambutnya!" (H.R. Bukhari No.1727 dan Muslim No.1301)

Dengan demikian sesuai sunah Rasulullah SAW maka bagi jamaah Haji atau Umrah laki-laki yang lebih utama dalam tahalul adalah menggundul rambutnya, karena yang demikian itu adalah yang dipraktekkan langsung oleh Rasulullah. Selain itu juga mendapatkan tiga kali lipat do'a dari Rasulullah SAW dibandingkan yang hanya memendekkan rambutnya.  Sedangkan bagi jamaah perempuan cukup memotong rambutnya seruas jari.

Bagi Jamaah Haji, tahalul ada 2 macam yaitu :

  • Tahalul Awal, bagi Jamaah yang sudah menyelesaikan dua dari tiga prosesi yaitu : thawaf ifadah, bercukur atau melontar jumrah aqabah, dimana sesudahnya boleh berganti pakaian biasa dan memakai wangi-wangian namun belum boleh berhubungan suami-isteri.
  • Tahalul Tsani, bagi yang sudah melaksanakan ketiganya maka sesudahnya diperbolehkan untuk berhubungan suami-isteri meskipun belum Nafar.

 

Sebelumnya : Sa'i